Kata "Indonesia" berasal dari kata dalam bahasa Latin yaitu Indus yang berarti "Hindia" dan kata dalam bahasa Yunani nesos yang berarti "Pulau". Jadi, kata Indonesia berarti wilayah Hindia kepulauan, atau kepulauan yang berada di Hindia, yang menunjukkan bahwa nama ini terbentuk jauh sebelum Indonesia menjadi negara berdaulat. Pada tahun 1850, George Earl, seorang etnolog berkebangsaan Inggris, awalnya mengusulkan istilah Indunesia dan Malayunesia untuk penduduk "Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu". Murid dari Earl, James Richardson Logan, menggunakan kata Indonesia sebagai sinonim dari Kepulauan India. Namun, penulisan akademik Belanda di media Hindia Belanda tidak menggunakan kata Indonesia, tetapi istilah Kepulauan Melayu (Maleische Archipel); Hindia Timur Belanda (Nederlandsch Oost Indiƫ), atau Hindia (Indiƫ); Timur (de Oost); dan bahkan Insulinde (istilah ini diperkenalkan tahun 1860 dalam novel Max Havelaar (1859), ditulis oleh Multatuli, mengenai kritik terhadap kolonialisme Belanda.

Minggu, 01 Agustus 2010

AS KHAWATIRKAN KIAMAT BADAI MATAHARI

Energi tingkat tinggi dari Matahari dikhawatirkan dapat mengacaukan bumi dan melumpuhkan jaringan listrik selama bertahun-tahun, serta menyebabkan miliaran kerusakan.

ilustrasi

Gedung Putih berhasil mendapatkan persetujuan suara secara bulat 47-0 untuk alokasi dana sebesar U$100 juta (Rp 910 miliar) guna memproteksi jaringan listrik dari badai matahari yang meskipun jarang tapi berpotensi sangat mematikan.

Keberadaan Grid Reliability and Infrastructure Defense Act atau H.R. 5026 bertujuan untuk mengubah Undang-undang Energi Federal agar dapat melindungi sistem penggunaan daya dan infrastruktur listrik penting untuk pertahanan Amerika Serikat terhadap keamanan cyber dan ancaman lainnya.

Ledakan elektromagnetis yang berasal dari badai matahari ataupun geomagnetik bisa sebagai serangan besar terhadap distribusi energi.

Badai matahari terjadi saat titik matahari di bintang tersebut meletus dan mengeluarkan energi listrik dalam bentuk partikel, di mana dapat mengganggu sistem energi bumi. Aktivitas matahari rata-rata memiliki siklus 11 tahun, dan saat ini tampak berada dalam masa periode aktif.

“Matahari sedang bergerak dari tidur yang panjang, dan beberapa tahun mendatang kami memperkirakan akan melihat tingkatan yang cukup tinggi dari aktivitas matahari,” ujar Richard Fisher, kepada Divisi Heliofisika NASA.

“Pada saat yang sama, komunitas teknologi kita sedang mengembangkan sistem kepekaan yang belum ada sebelumnya untuk mendeteksi badai matahari.”

Fisher dan beberapa ahli lain bertemu Selasa lalu di forum Space Weather Enterprise untuk mendiskusikan dua masalah tersebut, serta bagaimana cara memproteksi lingkungan masyarakat dari bencana alam itu.

Badai matahari terbesar dapat menyebabkan kerusakan 20 kali lipat dari bencana Badai Katrina, tulis National Academy of Science dalam laporan mereka tahun 2008 Severe Space Weather Events- Societal and Economic Impact.

Selain itu North American Electric Reliability Corporation juga menekankan bahwa “meskipun risiko tersebut tampak jarang, namun dalam beberapa kasus bukan hal yang mustahil sehingga bukan hal yang salah untuk konsen terhadap peristiwa geomagnetis ini".

Dalam sebuah laporan baru-baru ini, NERC mengutip dari Metatech and Storm Analysis Consultants menunjukkan bahwa potensi ancaman lingkungan geomagnetik yang tinggi mungkin jauh lebih besar daripada yang diantisipasi sebelumnya.

Peristiwa itu memiliki potensi untuk menghasilkan gangguan secara luas ke sistem transmisi dan kerusakan fisik tidak terhingga pada transformator besar.[ito]

Sumber: inilah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

next page